“Huff…akhirnya dapat juga pulang dari kantor”. Setelah 5 hari kerja, akhirnya dapat juga menikmati udara week end. Benar – benar Jumat yang menyenangkan. Besok tidak masuk kerja, dan barusan tadi, ada teman kantor yang mentraktir makan malam. Lumayan, bisa menghemat pengeluaran, hehehe…
Setelah puas makan, saya segera menuju halte busway Tosari. Ya, tidak penuh – penuh amat. Mungkin sebagian dari mereka ada yang nongkrong – nongkrong dulu, sebelum pulang ke rumah. Biasa lah, week end, ngapain juga pulang cepat – cepat. “Menikmati hidup”, kata mereka.
Setelah turun dari busway yang ber – AC, saya turun di halte terakhir, yaitu halte Stasiun Kota. Rasa haus langsung menyerang saya. “Kenapa ga beli minum aja dulu?” batin saya menyuruh saya untuk membeli sebotol teh dingin. Segera saya mencari warung untuk membeli teh botol yang dingin.
Setelah saya menyeruput teh yang dingin, dan ditemani dengan sebatang rokok, saya terdiam dahulu di depan kios itu. Ternyata di dekat kios itu, ada 3 wanita yang sedari tadi duduk – duduk di dekat saya. Umur mereka sekitar 30 – 40 tahun. Ada satu wanita yang berpakaian kaus ketat berwarna kuning, yang dari tadi melihat ke arah saya. Tiba – tiba dia datang ke arah saya, dan berkata, “Mas, ada rokok ga? Bagi donk, kalo masih ada rokoknya?” Wah, ada apa, nich. Kok tiba – tiba datang terus minta rokok. Tapi segera, saya mengeluarkan rokok saya, dan menawarkan kepadanya. “Makasih, ya Mas,rokoknya,” katanya sambil menyalakan rokok. Lalu ia menghisap rokoknya itu dalam – dalam, dan menghembuskannya keluar. Kelihatannya dia menikmati sekali rokok itu.
“Ngapain Mbak, malem – malem di sini? Lagi nunggu temen, ya?” saya iseng – iseng bertanya. “Biasa Mas, kerja. Lagi nunggu pelanggan, nich, hehehe…” dia menjawab dengan genit. “Hmmm…kerja? Nunggu pelanggan? Wah, jangan – jangan…?” saya membatin. “Kerja apa, Mbak? Kok di sini? Pelanggan apaan, Mbak?” saya bertanya. “Wah, Mas ini polisi ya? Kok tanyanya banyak banget? Bejibun lagi.” Saya baru sadar, kalau saya bertanya terlalu banyak, dan beruntun. Jadi seperti polisi saja. Maklum, lulusan hukum, dan punya bakat sebagai wartawan. Makanya, saya tadi bertanya seperti sedang menginterogasi saja. “Sorry, Mbak. Nyantai aja, saya mah bukan polisi. Warga sipil biasa, hehehe…” kata saya menjelaskan pada dia. “Iya, saya juga tau, kok, kalo Masnya ini bukan polisi. Tanya gitu, soalnya Mas nanyanya kaya polisi aja, sich…” Kata dia sambil tersenyum, dan kembali menghisap rokoknya dalam – dalam. Betapa nikmatnya dia menghisap rokok itu, seakan – akan dia tidak ingin kehilangan asap tembakau itu sedikitpun juga. “Saya biasa, Mas, kalo malem – malem, dari jam 5 sore, udah mangkal di sini, Mas.” Kata dia menjelaskan alasan dia berada di tempat ini. “Biasa Mas, cari duit. Jaman sekarang, mah susah cari duit. Kalo mau kerja yang biasa – biasa, pendidikan saya kurang.” Dia berkata sambil menatap kosong ke depan.
“Topik yang menarik juga untuk diobrolin, nich.” Batin saya menyuruh agar saya tetap berada di tempat itu, dan berbicara panjang dengan dia. Tho, masih jam 7 malam, dan kereta terakhir ke Bogor jam 9. “Memang Mbaknya, kalo setiap malem selalu dapet, ya Mbak?” Saya bertanya mengenai pendapatan dia setiap harinya. “Ya, biasanya sich dapet, Mas. Paling ga, ya satu dech, sehari.” Dia menjelaskan. “Memang, kalo saya mau nyewa situ berapa, Mbak?” Tanya saya mengenai tarifnya. Lalu dengan tatapan nakal, dia menjawab bahwa tarifnya Rp. 100.000. “Itu udah ama kamar, Mas. Murah, khan, Mas. Saya mah, kalo pasang tarif juga ga tinggi – tinggi banget. Nyadar body, Mas, hehehe…Tapi kalo Mas mau yang long time, tariff saya 250 ribu. Itu belum sama kamar, lho Mas.” Kemudian dia menunjuk ke arah salah satu bangunan yang rada – rada tua. “Itu tempat saya, Mas. Saya sudah ada kamar langganan di sana. Tapi kalo Mas mau yang long time, kita nginep di sana, Mas. Soalnya kalo yang di situ, cuman buka ampe jam 9 malem. Kalo yang long time, di situ, Mas.” Katanya sambil menunjuk ke arah salah satu rumah. “Kalo yang itu, 24 jam, Mas. Murah – murah, lagi. Yang kamar mandi di luar, 20 ribu. Kalo yang kamar mandi dalam, 25 ribu. Murah, khan Mas?” Lalu dia menjelaskan bahwa dia harus menurunkan tarifnya, karena dia menyadari usia dia, dan juga, karena banyaknya saingan dari PSK yang masih muda. “Kalo saya masih ABG, Mas, saya bisa pasang tariff tinggi. Bisa ampe 500 rb. Kalo Mas mau yang ABG, biasanya, banyak mangkal di Mangga Besar, tuch. Kalo di sini mah, kebanyakan yang tua – tua, kayak saya ini, hehehe…”
Lalu ia memperkenalkan dirinya. Dia bernama Winda. Nama yang indah untuk seorang PSK. Ya, mungkin itu nama samaran dia saja, dan memang mereka kebanyakan mempunyai nama samaran. Selain itu, nama samaran itu dipakai untuk menarik pelanggan. Tentu saja, pelanggan akan lebih tertarik untuk menyewa PSK dengan nama seperti Winda, Linda, Eva, dari pada PSK yang mempunyai nama seperti Suminem, Sutiyah, Painem, bukan?
Kemudian Winda menceritakan tentang kehidupannya. Ternyata dia tinggal di daerah Cibinong bersama dengan ibunya, dan kedua anaknya. Anaknya yang pertama telah menginjak bangku kuliah, dan anaknya yang kedua berada di pesantren. “Biar ibunya PSK, anak saya harus pinter, Mas. Saya ga mau, anak saya jadi bodoh. Kalo bisa, anak saya bisa kuliah, dan ga jadi PSK kayak saya, Mas.” Lalu dia menceritakan bahwa ia selalu memberitahukan bahwa ia adalah janda yang ditinggal mati suaminya, dalam sebuah kecelakaan kerja. Karena suaminya adalah pegawai swasta rendahan, maka pesangon yang diterimanya tidaklah seberapa besar. Ditambah lagi, pendidikan dan keterampilan yang ia punyai sedikit, mendorong ia terjun ke dalam dunia prostitusi ini. “Keluarga saya ga ada yang tau, kalo saya kerja sebagai PSK, Mas. Saya bilangnya kerja di bar. Ya, khan sama – sama kerja malem juga, Mas.” Katanya sambil kembali tersenyum nakal. “Sebentar, ya Mas. Ada yang telepon…” katanya sambil mengeluarkan sebuah hand phone keluaran Jerman, yang harganya sekitar 700 sampai 800 rb. Tidak jelas, apakah itu hand phone pinjaman, ataukah memang kepunyaan dia. “Halo, sayang, apa kabar? Iya, nich, masih di tempat biasa. Oh, kamu mau kesini? Ya, sampe sekarang sich belum ada siapa – siapa. Cepetan aja, Yang, kamu kesini. Keburu aku dibooking ama yang lain, lho, hehehe…” Lalu Winda menutup hand phonenya, dan sambil tersenyum, dia berkata pada teman di sebelahnya, yang kemudian saya mengetahui dia bernama Lia ( paling – paling nama samaran juga…), “Donny mau dateng. Wah, asik nich, bakal kebanjiran duit, nich gue, hehehe…Ikut, ga loe? Dia khan sukanya main banyakan…” Kemudian saya mengetahui bahwa yang bernama Donny ini, adalah pelanggan yang suka bermain dengan PSK lebih dari 1. “Biasa, Mas, pelanggan. Dia sukanya main banyakan. Dia kalo nyewa, paling ga dia nyewa 2. Ga pernah dia nyewa 1 doank. Dan dia pasti long time, Mas.” Dia lalu menjelaskan siapa Donny itu.
Tidak terasa, waktu telah menunjukkan jam 8 malam. Wah, mesti ke stasiun, nich. Kalo ga, bisa ketinggalan kereta, nich. Setelah saya membayar minum saya dan Winda, dan memberikan sisa rokok saya, sebagai “upah” menemani saya ngobrol, saya meneruskan perjalanan saya menuju Stasiun Kota. Sebenarnya, menarik berbicara dengan Winda. Sebuah fenomena yang tidak dapat kita pungkiri, bahwa pelacuran itu akan selalu ada, sampai kapanpun, selama di dunia ini masih ada laki – laki dan perempuan.
Di kereta yang menuju Bogor, yang lumayan sepi, karena sudah jam 8 malam, saya masih merenungi pembicaraan dengan Winda tadi. Di tengah – tengah perenungan saya, saya terkejut oleh suara wanita berteriak. “Eh, loe kalo ngomong yang bener, tau ga?! Apa – apaan, loe ngomong kayak gitu. Sopan dikit, kalo ngomong ama orang tua!” kata seorang wanita yang telah berusia sekitar 40 – an. “Heh, gue udah ngomong yang bener, tau ga?! Loenya aja, yang ga bisa ngomong sopan. Emang, kalo loe tua, loe bisa ngomong seenak loe?!” kata yang masih muda, yang berusia sekitar 20 tahun. Segera, setelah si wanita muda itu membalas kemarahan si wanita tua itu, maka si wanita tua itu memukul si wanita muda, dan adegan saling pukul tidak dapat dihindarkan lagi. Caci maki dan kata – kata kasarpun segera keluar dari mulut kedua wanita tersebut.
Pada saat mereka sedang dipisahkan oleh para penumpang kereta, salah seorang penumpang, yang kebetulan berada di sebelah saya, menyahut, “Woi, masa pakeannya seperti itu, tapi berantem? Malu atuh…” Kemudian dia berteriak lagi, “Pakean seperti itu, kok omongannya kasar? Kayak apa aja?!” “Yah, Bang, namanya juga emosi.” Saya menyahut teriakannya. “Ya, tapi malu donk, masa pakeannya seperti itu, tapi kelakuannya ga bisa diatur.Terus gunanya pakean itu, apaan?” Kata dia kembali. “Apa menurut mereka itu, itu cuman pakean doank? Percuma donk, pakeannya ketutup, tapi dalemnya kayak binatang gitu.” Kembali ia berkata.
Ada hal yang menarik dan saling berhubungan di dalam pengalaman malam itu. Di satu sisi, ada Winda dan teman – temannya, yang adalah pelacur, yang dianggap kotor, najis, dan tidak bermoral. Dan mereka berterus terang kalau mereka adalah pelacur, untuk menyambung hidup mereka dan keluarganya. Di satu sisi ada dua wanita yang mengenakan pakaian yang tertutup, dan cenderung diidentikan dengan pakaian bagi orang – orang yang benar, tapi mereka tidak dapat mengatur omongan mereka, dan itu dilakukan di dalam sebuah kereta yang sarat dengan penumpang.
Pandangan orang, apa bila mereka melihat seorang pelacur, maka mereka akan menyingkir, dan tidak mau dekat – dekat dengan mereka. Pelacur identik dengan sampah masyarakat. Mereka diidentikkan juga dengan melecehkan agama ( http://id.wikipedia.org/wiki/Prostitusi ). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti dari pelacur adalah perempuan yang melacur; sundal; wanita tuna susila. Dalam Advanced Learner’s English Dictionary, terbitan dari HarperCollins Publisher, prostitute mempunyai arti is a person, usually a woman, who has sex with men in exchange for money. Dalam lagu Kupu – kupu Malam, ciptaan Titiek Puspa, yang kemudian dipopulerkan oleh Peter Pan, ada kalimat yang mengatakan “…ini hidup wanita si kupu – kupu malam, bekerja bertaruh seluruh jiwa raga…yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa…” Iwan Fals, dalam lagunya yang berjudul Lonteku, mengatakan, “…walau kita berjalan dalam dunia hitam…meski semua orang singkirkan kita…”
Dalam dua kamus dan dua lirik tersebut, kita mengetahui bahwa pelacur adalah wanita yang menjual dirinya demi mendapatkan uang. Mereka menjual diri mereka, dan harus hidup dalam dunia gelap, demi mendapatkan uang, agar mereka dapat terus hidup. Mereka harus menerima takdir mereka, sebagai orang – orang yang tersingkirkan.
Lalu sekarang kita menuju ke dunia yang lain. Dunia di mana terdapat orang – orang yang dianggap sebagai orang – orang yang suci, orang benar, dan orang hebat. Contoh kasus adalah dua wanita yang berada di dalam kereta itu. Kedua wanita itu, sama – sama memakai pakaian yang tertutup. Pandangan orang, apabila melihat wanita dengan pakaian tersebut, maka mereka akan berpandangan bahwa wanita ini adalah wanita yang alim. Setidak – tidaknya, itu yang dikatakan oleh 3 teman saya di kantor. Begitu juga, apa bila kita melihat seorang pemuka agama, maka yang terpikirkan oleh kita yang untuk pertama kalinya, adalah mereka itu orang – orang yang suci, alim, dan kuat imannya. Pandangan orang, apa bila melihat seorang pelacur, dengan seorang pemuka agama ( atau setidak – tidaknya, berpakaian yang mencerminkan sebuah agama ), akan seperti langit dan bumi. Akan amat sangat berbeda. Untuk seorang pelacur, mereka dianggap sebagai sampah, sedangkan seorang pemuka agama, dianggap sebagai orang suci, bahkan, kalau bisa, setara dengan Tuhan.
Pelacuran itu ada, sebagian besar karena faktor ekonomi. Dikarenakan lapangan pekerjaan yang semakin sedikit, dan juga karena tuntutan hidup yang semakin meninggi, maka mereka terpaksa melacurkan diri mereka. Apabila mereka tidak melacurkan diri mereka, maka ada kemungkinan mereka tidak makan untuk hari itu. Karena himpitan ekonomi itulah, maka mereka terpaksa melacurkan diri mereka. Bukan keinginan mereka untuk bekerja sebagai pelacur, dengan resiko kehancuran masa depan mereka. Apa bila mereka hidup berkecukupan, maka mereka pun tidak akan bekerja hidup sebagai pelacur. Kecuali, mereka memiliki kelainan seksual, atau factor lainnya, seperti yang dilakukan oleh salah satu anak dari penyanyi Cher, yang menjadi pelacur, karena ia sakit hati dengan kelakuan ibunya, dan ia ingin membuat malu nama ibunya, yaitu Cher.
Sekarang kita melihat kepada orang – orang yang dianggap benar. Contoh nasional adalah kasus video porno antara Yahya Zaini dengan Maria Eva. Yahya Zaini, seorang anggota DPR, dan juga anggota dari komisi yang bermaksud “menggolkan” RUU APP, ternyata dia melakukan perselingkuhan dengan seorang penyanyi dangdut, Maria Eva. Bahkan mereka berdua telah mempunyai sebuah gelar agama. Bagaimana tanggapan masyarakat tentang hal ini? Tentu saja hal ini menjadi kasus yang menghebohkan. Dua orang yang menjadi public figure, melakukan perzinahan, dan lebih parahnya lagi, mereka juga melakukan pembunuhan, dengan mereka melakukan aborsi atas janin yang dikandung Maria Eva.
Kasus lain, yang terjadi di Amerika Serikat, yaitu pada saat seorang pemimpin agama, yang bernama Kardinal Bernard Law, seorang uskup dari Boston, yang melakukan perlindungan terhadap pastor – pastor yang melakukan sexual abuse kepada anak (http://www.voanews.com/indonesian/archive/2002-04/a-2002-04-14-3-1.cfm; http://en.wikipedia.org/wiki/Bernard_Law ). Pantaskah kita, melihat mereka sebagai orang yang terhormat? Apabila anda diminta pendapat, maka, siapakah yang lebih terhormat, seorang Winda yang berterus terang, ia adalah seorang pelacur, ataukah wanita – wanita yang berlindung di balik pakaian mereka, tetapi mengeluarkan kata – kata kasar di depan umum, seorang Yahya Zaini – Maria Eva dan pastor – pastor yang melakukan sexual abuse, yang berlindung di balik ke – public figure – an, dan kehormatan mereka, tetapi mereka melakukan perselingkuhan dan perzinahan?
Dalam tulisan ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa terkadang kita terkecoh oleh penampilan seseorang. Pakaian, jabatan, gelar, dan yang lainnya, terkadang mengecoh kita. Dengan pakaian yang sopan, jabatan yang tinggi, gelar yang mentereng, mereka akan amat sangat dihormati. Seorang Winda, dan teman – teman seprofesinya, maka mereka akan dianggap sebagai sampah dan penyakit masyarakat. Seorang Winda, yang berprofesi sebagai pelacur, dengan harapan agar kelak anak – anaknya dapat melanjutkan pendidikannya ke tingkat universitas, agar tidak bernasib seperti Winda, dengan seorang yang berpakaian rapih, dan kedudukan tinggi, tetapi berkelakuan rusak, manakah yang menurut anda lebih baik?
Saya tidak ingin menutup tulisan saya ini dengan kesimpulan saya. Saya hanya ingin kalian, sebagai pembaca, mengambil kesimpulan sendiri. Apabila anda dapat berpikir dengan baik, maka saya yakin bahwa anda dapat mengambil kesimpulan yang tepat.
Akhir kata, saya ingin menitipkan pesan kepada kita semua, agar kita tidak melihat segala sesuatunya hanya dari luarnya saja. Coba, kita selami dahulu, mengapa mereka melakukan perbuatan itu.